1. MAKASSAR
  2. GAYA HIDUP

Waspada, stres bisa picu obesitas

Untuk menghindarinya, bisa dengan mulai menghentikan kebiasaan begadang

©2016 Merdeka.com Editor : Aan Pranata | Kamis, 16 Juni 2016 16:10

Merdeka.com, Makassar - Ketika stres menyerang, salah satu hal yang dilakukan oleh tubuh adalah mendongkrak produksi adrenalin. Adrenalin menyebabkan sel-sel lemak di seluruh tubuh mengalirkan dengan deras cadangan asam lemaknya ke dalam aliran darah untuk kemudian digunakan sebagai energi.

Adapun kelenjar adrenal memproduksi hormon lain lagi untuk menangani semuanya dengan melepaskan lemak yang baru. Hormon ini disebut kortisol atau yang lebih tenar: hormon lemak perut. Ketika stres menyerang, maka adrenalin memobilisasi lemak dari seluruh tubuh sehingga kortisol mengambil bagian yang tidak terpakai dan menyimpannya di daerah perut.

Lantas bagaimana mengatasinya ? Simak tips mengurangi stres yang menyebabkan kegemukan berikut ini, yang dikutip dari Mens Healt.

Kurangi begadang

Penelitian University of Chicago yang diterbitkan dalam jurnal Sleep menunjukkan bahwa pria yang tidur hanya 4 jam memiliki kadar kortisol 37% lebih tinggi dibanding pria yang mendapat waktu tidur penuh selama 8 jam. Orang-orang yang tetap terjaga sepanjang malam memiliki level 45% lebih tinggi. Para spesialis tidur pun menyarankan agar Anda berusaha untuk tidur selama 8 jam per malam. Simak juga Tips Menghilangkan Letih dan Susah Tidur

Hindari alkohol

Tubuh Anda berpikir bahwa telah terjadi kondisi darurat kekurangan air sehingga kortisol Anda melonjak tinggi. Berapa banyak batasan alkohol yang terlalu banyak itu? Sebagian besar orang mengatakan tiga gelas sehari. Ide dehidrasi juga berlaku sama seperti kafein. Untuk mengendalikan kortisol, batasi kafein hingga 200 miligram saja per hari –itu seperti apa yang Anda dapatkan dari dua cangkir kopi. Terlalu kopi juga bahaya lho !

Belajar organisir

Rasa memiliki kendali terhadap beberapa pemicu stres dalam hidup Anda tentunya akan sangat membantu. “Jika Anda mengagetkan seorang relawan secara acak dengan bunyi suara yang keras, maka akan membuat hormon stresnya langsung meningkat,” kata Robert Sapolsky, Ph.D., profesor ilmu biologi dan neurologi di Stanford University. “Tapi, jika Anda memberinya tombol dan mengatakan kepadanya bahwa dengan menekan tombol tersebut akan mengurangi kebisingannya, maka respons stresnya akan jadi lebih kecil meskipun dengan suara keras yang sama.” Buatlah segalanya terorganisir, sekecil apapun antisipasinya, sehingga dapat membantu Anda untuk merasa lebih baik seperti seorang kapten di kapal Anda sendiri. Intinya, jangan membuat hidup semakin rumit.

Banyak berdoa

Menurut sebuah penelitian terbaru, praktik kerohanian dan agama bisa mengusir depresi dan menjauhkan seseorang dari berbagai penyakit. Jika Anda adalah seorang yang religius, spiritual, dan sering meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari, kini ada bukti bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi otak dan tubuh Anda. Menurut sebuah penelitian, praktik kerohanian dan agama bisa melawan depresi, dengan mempertebal korteks otak.

(AP)
  1. Kesehatan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA